Dinas Kesehatan DIY menyelenggarakan kegiatan penanganan dan respon terkait gizi dalam bencana untuk mendukung kesiapsiagaan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara ini berlangsung selama dua hari pada Rabu hingga Kamis, 15-16 Maret 2026, bertempat di Aula C Dinas Kesehatan DIY, Jalan Gondosuli No.6, Yogyakarta. Penyelenggaraan kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam mengantisipasi kerawanan pangan dan gizi saat situasi darurat di masa depan. Upaya tersebut secara langsung mendukung implementasi SDGs nomor 2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) melalui peningkatan status gizi dan ketahanan pangan masyarakat terdampak bencana. Fokus utama pertemuan ini adalah sinkronisasi gerak cepat antarlembaga agar penanganan gizi tetap terjaga dalam kondisi krisis.
Peserta kegiatan ini berasal dari gabungan berbagai instansi mulai dari institusi kesehatan, perguruan tinggi, badan amil zakat, hingga institusi pemerintahan terkait lainnya. Departemen Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM) turut mengambil peran penting dengan mengirimkan satu perwakilan ahli untuk menghadiri kegiatan tersebut. Kehadiran berbagai elemen ini mencerminkan semangat SDGs nomor 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals) dalam memperkuat kerja sama demi pembangunan berkelanjutan. Seluruh peserta berkomitmen untuk saling bersinergi dalam menyatukan sumber daya dan keahlian demi keamanan gizi daerah. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat menciptakan sistem penanganan bencana yang lebih komprehensif dan terpadu di Yogyakarta.
Rangkaian materi yang disampaikan mencakup kebijakan terkini penanganan gizi dalam bencana serta strategi respon kedaruratan yang efektif dan efisien. Selain itu, agenda utama lainnya adalah pembentukan tim sub klaster gizi DIY sebagai wadah koordinasi resmi saat terjadi situasi darurat. Pemberian materi yang komprehensif ini sejalan dengan SDGs nomor 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) yang mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi para praktisi. Melalui penyampaian ilmu yang berkualitas, para tenaga profesional kesehatan diharapkan mampu memberikan edukasi kesehatan yang akurat kepada masyarakat luas. Hal ini memastikan bahwa peningkatan kapasitas SDM dilakukan secara inklusif untuk menjamin keselamatan warga di daerah rawan bencana.
Kegiatan ini juga diisi dengan sesi Focus Group Discussion (FGD) pada setiap kelompok kerja yang telah disusun untuk memetakan peran masing-masing institusi. Para peserta aktif merumuskan rencana tindak lanjut yang konkret guna memastikan keberlanjutan program penanganan gizi di lapangan. Diskusi mendalam ini bertujuan untuk menutup celah kekurangan dalam prosedur standar operasional (SOP) gizi darurat yang sudah ada. Setiap poin kesepakatan akan menjadi landasan bagi tim sub klaster gizi DIY dalam bertindak lebih responsif dan tepat sasaran. Dengan adanya rencana tindak lanjut yang jelas, Yogyakarta siap menjadi provinsi yang lebih tangguh dalam menghadapi ancaman bencana melalui pendekatan gizi yang kuat.