Hari Ketiga Workshop Pengembangan Kurikulum Pendidikan Gizi: UGM Dorong Inovasi Pembelajaran Berkarakter untuk Menyiapkan Lulusan Adaptif di Era Transformasi Digital

 

Yogyakarta – Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM menutup rangkaian Workshop Pengembangan Kurikulum Pendidikan Gizi: Penyelarasan Kebijakan, Kompetensi, dan Inovasi Pembelajaran pada 6 Agustus 2026 dengan mengangkat tema pengembangan inovasi pembelajaran yang berkarakter. Setelah membahas arah kebijakan nasional pada hari pertama dan praktik baik internasional pada hari kedua, sesi penutup berfokus pada bagaimana kurikulum perlu merespons transformasi pendidikan tinggi melalui inovasi pedagogi, pemanfaatan teknologi digital, pembentukan identitas profesional, serta penguatan karakter lulusan.

Ketua Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM, Prof. Dr. Lily Arsanti Lestari, M.P., dalam sambutannya menegaskan bahwa pengembangan kurikulum tidak hanya bertujuan memperbarui struktur mata kuliah, tetapi juga mempersiapkan lulusan yang mampu berpikir kritis, kreatif, berintegritas, memiliki kepedulian terhadap masyarakat, serta menjadi pembelajar sepanjang hayat. Menurut beliau, dosen memiliki peran strategis sebagai fasilitator yang membangun lingkungan belajar yang mendorong mahasiswa berkembang secara akademik maupun sebagai calon profesional.

Pada sesi pertama, Dr. Agr.Sc. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., ASEAN Eng. dari Direktorat Kajian dan Inovasi Akademik UGM menjelaskan bahwa pendidikan tinggi sedang menghadapi perubahan besar akibat berkembangnya teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Kelimpahan informasi mengubah peran mahasiswa dari sekadar pencari informasi menjadi individu yang harus mampu menyaring, mengevaluasi, dan menginterpretasikan bukti ilmiah secara kritis. Oleh karena itu, pembelajaran perlu dirancang berdasarkan prinsip Outcome-Based Education (OBE) yang didukung oleh teknologi tanpa mengabaikan kualitas capaian pembelajaran.

Beliau menekankan bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai mitra belajar, bukan pengganti penalaran manusia. Melalui konsep AI Integration Ladder, dosen dapat menentukan tingkat pemanfaatan AI sesuai tujuan pembelajaran, mulai dari penggunaan yang sangat terbatas hingga kolaborasi dalam praktik profesional. Dr. Hatma juga memperkenalkan pengembangan microcredential yang dilakukan UGM melalui kanal UGM Online sebagai pelengkap kurikulum yang tetap terhubung dengan capaian pembelajaran mata kuliah sehingga mendukung fleksibilitas belajar sekaligus memperluas kompetensi mahasiswa. Menurut beliau, transformasi digital harus tetap berlandaskan integritas akademik, kemampuan audit proses pembelajaran, serta pendekatan yang berpusat pada pembelajar dan profesinya kelak.

Perspektif mengenai pembentukan profesionalisme disampaikan oleh dr. Hikmawati Nurokhmanti, M.Sc., Sp.KKLP. dari Departemen Pendidikan Kedokteran dan Bioetika FK-KMK UGM melalui topik Professional Identity Formation (PIF). Beliau menjelaskan bahwa identitas profesional tidak terbentuk secara instan, melainkan berkembang melalui interaksi antara dosen sebagai contoh teladan, lingkungan belajar yang mencerminkan nilai-nilai profesi, serta kemampuan refleksi mahasiswa terhadap pengalaman belajar dan praktik. Karena itu, pembentukan profesionalisme perlu diintegrasikan secara sistematis dalam kurikulum, bukan hanya melalui materi kuliah tetapi juga melalui budaya akademik.

Untuk mendukung proses tersebut, berbagai metode asesmen dapat diterapkan, seperti portofolio reflektif, esai identitas professional, evaluasi 360 derajat, dan Entrusted Professional Activities (EPA). Diskusi berlangsung interaktif ketika peserta mengangkat isu mengenai keberagaman karakter mahasiswa, kesehatan mental, hingga potensi munculnya stereotip profesi. Menanggapi hal tersebut, dr. Hikmawati menekankan pentingnya penguatan moral reasoning, refleksi berkelanjutan, resiliensi, serta continuing professional development (CPD) agar nilai-nilai profesional dapat berkembang secara adaptif tanpa kehilangan esensi profesi.

Pada sesi penutup, Prof. Dr. Anik Ghufron, M.Pd. dari Universitas Negeri Yogyakarta mengajak peserta melihat pengembangan kurikulum dalam konteks perubahan global menuju Indonesia Emas 2045. Beliau menjelaskan bahwa kemajuan teknologi kecerdasan buatan, bioteknologi, digital health, wearable devices, dan perubahan demografi akan mengubah kompetensi yang dibutuhkan lulusan. Oleh karena itu, kurikulum harus terus dimutakhirkan agar responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, dan dinamika dunia kerja.

Prof. Anik menegaskan bahwa penguatan karakter tidak cukup diajarkan sebagai materi tersendiri, tetapi perlu menjadi bagian dari seluruh ekosistem pendidikan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan budaya kampus. Lulusan diharapkan tidak hanya menguasai ilmu gizi, tetapi juga memiliki literasi abad ke-21, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial. Beliau juga menekankan pentingnya meninjau ulang capaian pembelajaran, materi pembelajaran, strategi pembelajaran, dan sistem evaluasi secara berkelanjutan agar kurikulum tetap relevan.

Diskusi sepanjang hari memperlihatkan kesinambungan pemahaman yang sama dari seluruh narasumber, yaitu bahwa transformasi pendidikan memerlukan keseimbangan antara inovasi teknologi dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan, pengembangan karakter, profesionalisme, dan pembelajaran berbasis capaian bukanlah konsep yang berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dalam membentuk lulusan yang mampu beradaptasi dengan perubahan sekaligus memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat.

Menutup rangkaian workshop selama tiga hari, Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM menegaskan komitmennya untuk terus menyempurnakan kurikulum Program Studi Sarjana Gizi dan Program Studi Profesi Dietisien melalui proses yang partisipatif, berbasis bukti, dan selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebijakan pendidikan tinggi, kebutuhan layanan kesehatan, serta tantangan global di masa depan.

 

Penulis: Riani Witaningrum, Farah Faza

Editor: Mutiara Tirta Prabandari Lintang Kusuma