Yogyakarta – Departemen Gizi Kesehatan FKKMK UGM menyelenggarakan hari kedua International Curriculum Dialogue on Nutrition and Dietetics Education 2026 sebagai bagian dari rangkaian Workshop Pengembangan Kurikulum Pendidikan Gizi: Penyelarasan Kebijakan, Kompetensi, dan Inovasi Pembelajaran. Mengusung tema “Pembelajaran Praktik Baik Pendidikan Gizi Global”, kegiatan ini menghadirkan akademisi dan organisasi profesi dari Indonesia, Malaysia, Australia, dan Filipina untuk berbagi praktik baik dalam pengembangan kurikulum pendidikan gizi yang berorientasi pada kompetensi, inovasi, dan kebutuhan masa depan.

Workshop dibuka oleh Ketua Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM, Prof. Dr. Lily Arsanti Lestari, MP dan dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman dari berba
gai institusi mitra internasional. Diskusi menyoroti bagaimana setiap negara mengembangkan kurikulum yang tetap mengacu pada standar nasional, namun tetap memberikan ruang inovasi sesuai kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Prof. Leila S. Africa dari University of the Philippines Los Baños memperkenalkan Blueprint of Excellence sebagai pendekatan pengembangan institusi yang menempatkan kurikulum, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, penjaminan mutu, dan internasionalisasi dalam satu siklus perbaikan berkelanjutan. Menurut beliau, pengembangan kurikulum tidak hanya berorientasi pada pemenuhan standar, tetapi juga membangun budaya mutu yang terus berkembang melalui keterlibatan dosen, mahasiswa, alumni, pengguna lulusan, dan berbagai pemangku kepentingan.
Dr. Nurul Huda Razalli, Head of the Dietetics Programme Universiti Kebangsaan Malaysia, memaparkan pengalaman Malaysia dalam mengembangkan kurikulum dietetik yang mengintegrasikan pendidikan akademik, praktik profesional, penelitian, serta isu-isu kontemporer. Beliau menekankan bahwa penyusunan kurikulum perlu menjaga keseimbangan antara penguasaan ilmu dasar, pengalaman praktik, kemampuan berpikir kritis, dan kesiapan lulusan menghadapi dinamika pelayanan kesehatan.
Prof. Kelly Lambert dari University of Wollongong menjelaskan transformasi kurikulum melalui penerapan programmatic assessment. Berbeda dengan asesmen yang hanya mengandalkan ujian akhir, pendekatan ini mengumpulkan berbagai bukti capaian belajar mahasiswa secara bertahap melalui umpan balik berkelanjutan, kesempatan remediasi, dan penilaian oleh berbagai asesor. Beliau juga memperkenalkan berbagai inovasi pembelajaran yang telah diterapkan, seperti integrasi isu keberlanjutan (sustainability), indigenous knowledges, konseling dengan bantuan kecerdasan buatan (AI-assisted counselling), serta penguatan kolaborasi dengan industri dan komunitas.
Pada sesi organisasi profesi, Prof. Dr. Susetyowati, DCN., M.Kes. dari Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) memaparkan perkembangan pendidikan profesi dietisien di Indonesia. Beliau menjelaskan penguatan standar kompetensi, penyesuaian struktur kurikulum profesi, serta pentingnya mempersiapkan lulusan yang memiliki kemampuan penalaran klinis, komunikasi, kolaborasi interprofesional, kepemimpinan, dan literasi digital untuk menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan yang terus berkembang.
Prof. Winnie Chee dari Malaysian Dietitians’ Association menjelaskan bagaimana standar kompetensi dietisien yang sedang dikembangkan di Malaysia menjadi dasar dalam penyusunan capaian pembelajaran lulusan, pengalaman praktik, struktur kurikulum, dan sistem asesmen pendidikan dietetik di Malaysia. Beliau menegaskan bahwa standar kompetensi memberikan arah yang sama bagi seluruh institusi pendidikan sekaligus tetap membuka ruang bagi inovasi kurikulum sesuai keunggulan masing-masing perguruan tinggi.
Sebagai pembicara penutup, Prof. Mahenderan Appukutty, Presiden Nutrition Society of Malaysia, mengajak peserta melihat kurikulum dari perspektif masa depan. Menurut beliau, mahasiswa yang belajar hari ini akan menghadapi tantangan kesehatan, sosial, dan teknologi yang mungkin belum sepenuhnya dapat diprediksi. Oleh karena itu, kurikulum perlu bertransformasi dari berorientasi pada materi menjadi berorientasi pada kompetensi, dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan, digital health, pendidikan yang mendukung pembangunan berkelanjutan, Values-Based Education (VBE), serta pembelajaran sepanjang hayat.
Diskusi yang berlangsung sepanjang hari menunjukkan benang merah yang sama dari seluruh narasumber, yaitu pentingnya membangun kurikulum yang adaptif, berbasis kompetensi, didukung sistem penjaminan mutu yang berkelanjutan, serta dikembangkan melalui kolaborasi erat antara perguruan tinggi, organisasi profesi, pengguna lulusan, dan masyarakat.
Melalui penyelenggaraan International Curriculum Dialogue on Nutrition and Dietetics Education 2026, Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat jejaring internasional sebagai bagian dari penyempurnaan kurikulum Program Studi Sarjana Gizi dan Program Studi Profesi Dietisien. Berbagai praktik baik yang dibagikan diharapkan menjadi referensi strategis dalam menghasilkan lulusan yang unggul, adaptif, berdaya saing global, dan mampu menjawab tantangan pelayanan kesehatan di masa depan.
Penulis: Riani Witaningrum, Farah Faza
Editor: Mutiara Tirta Prabandari Lintang Kusuma